Faktalampung.id, INTERNASIONAL – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) pada Kamis (16/4/2026). Pemerintah Iran menegaskan bahwa langkah blokade Selat Hormuz yang dilakukan oleh armada Angkatan Laut AS dapat merusak kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Washington.
Peringatan ini disampaikan menyusul eskalasi ketegangan maritim di jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia tersebut. Otoritas Iran menilai tindakan sepihak Washington tersebut tidak memiliki dasar hukum dan berpotensi memicu konflik bersenjata berskala lebih besar.
“Blokade Selat Hormuz adalah langkah provokatif, melanggar hukum internasional, dan dapat menyebabkan terganggunya gencatan senjata. Dalam hal ini, angkatan bersenjata kami siap mengambil tindakan yang diperlukan,” kata Baghaei dalam keterangannya kepada kantor berita RIA Novosti, Kamis (16/4).
Ketegangan terbaru ini bermula dari laporan pada tanggal 13 April yang menyebutkan bahwa armada Angkatan Laut AS mulai melakukan pembatasan lalu lintas maritim. Militer AS dilaporkan memblokade seluruh akses pelayaran niaga maupun militer yang keluar masuk pelabuhan-pelabuhan milik Iran di kawasan tersebut. Perairan ini berstatus sangat vital karena merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia.
Terkait operasi maritim tersebut, pihak Washington mengeluarkan pernyataan bahwa kapal-kapal berbendera non-Iran masih diperbolehkan melintas. Namun, AS memberikan syarat ketat agar armada komersial tersebut tidak membayar pungutan atau tarif melintas kepada pemerintah Teheran. Hingga saat ini, pemerintah Iran sendiri belum mengumumkan penerapan kebijakan pungutan resmi kepada publik, meskipun wacana pengenaan tarif maritim itu diakui sudah dibahas di tingkat internal negara.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah telah meningkat tajam sejak beberapa bulan terakhir. Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel dilaporkan melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran. Tindakan militer tersebut langsung direspons oleh otoritas Teheran dengan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan wilayah teritorial Israel serta sejumlah fasilitas pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Upaya diplomasi untuk meredakan konflik bersenjata sebenarnya telah diupayakan oleh kedua belah pihak. Pada 11 April, perwakilan diplomatik Iran dan AS diketahui sempat mengadakan pertemuan di Islamabad, Pakistan. Pembicaraan tersebut secara khusus membahas rancangan kesepakatan penghentian permusuhan. Namun pada 12 April, delegasi AS menyatakan bahwa perundingan tersebut menemui jalan buntu dan tidak menghasilkan kesepakatan apa pun, sebelum akhirnya kembali ke negara asal. Tindakan lanjutan berupa blokade Selat Hormuz ini diyakini akan semakin memperburuk situasi diplomasi dan keamanan di kawasan tersebut.













