BNPB Catat Bencana Banjir dan Angin Kencang Dominasi Sejumlah Wilayah Awal April 2026

Tim BPBD Kota Bengkulu mengerahkan perahu karet untuk membantu warga saat banjir melanda sejumlah kecamatan, pada Senin (6/4). Saat ini banjir berangsur surut meskipun demikian tim BPBD masih bersiaga memantau kondisi air. Sumber foto: BPBD Kota Bengkulu

Faktalampung.id, NASIONAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa rentetan bencana banjir dan angin kencang mendominasi kejadian kedaruratan di berbagai wilayah Indonesia selama fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Data tersebut dirangkum berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB pada periode Selasa hingga Rabu, 7–8 April 2026.

Di Provinsi Bengkulu, hujan dengan intensitas deras pada Senin (6/4/2026) dini hari telah memicu banjir berskala luas di wilayah Kota Bengkulu. Luapan air dengan ketinggian 30 hingga 100 sentimeter tersebut merendam 2.855 unit rumah, satu fasilitas ibadah, dan satu fasilitas pendidikan yang tersebar di 26 kelurahan pada delapan kecamatan. Merespons kejadian tersebut, BPBD Kota Bengkulu segera menerjunkan personel untuk melakukan asesmen, mengevakuasi warga, mendistribusikan logistik, serta mendirikan tenda pengungsian darurat.

Kejadian hidrometeorologi serupa juga melanda Kabupaten Bengkulu Tengah. Luapan sungai akibat curah hujan tinggi pada Minggu (5/4/2026) merendam sembilan desa di Kecamatan Talang Empat, Karang Tinggi, dan Pondok Kubang. BPBD setempat mendata sedikitnya 219 Kepala Keluarga (KK) terdampak langsung. Memasuki Selasa (7/4/2026), kondisi genangan di kedua wilayah Bengkulu tersebut dilaporkan telah berangsur surut.

Selain di Pulau Sumatera, bencana banjir dan angin kencang juga memberikan dampak kerusakan di Pulau Kalimantan dan Jawa. Di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, banjir setinggi 130 sentimeter sempat melumpuhkan aktivitas 74 KK di Desa Tanah Abang, Kecamatan Mataraman, pada Senin (6/4/2026). Petugas BPBD Kabupaten Banjar terus memantau kerawanan di titik ini secara intensif mengingat topografi Desa Tanah Abang yang berupa cekungan dataran rendah sangat rawan menerima banjir kiriman.

Sementara itu, cuaca ekstrem berupa hantaman angin kencang memporak-porandakan wilayah Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Sapuan pusaran angin pada Senin (6/4/2026) sore mengakibatkan 62 rumah warga di Desa Ngadipiro dan Desa Wilangan mengalami kerusakan pada bagian atap. Sejumlah pohon beringin berukuran besar juga dilaporkan tumbang dan menimpa area Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Menyikapi eskalasi kejadian di berbagai wilayah tersebut, BNPB secara resmi mengeluarkan peringatan kesiapsiagaan kepada pemerintah daerah dan masyarakat luas guna menekan risiko jatuhnya korban.

“BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem pada masa peralihan musim hujan ke kemarau, seperti angin kencang, hujan ekstrem, puting beliung, banjir, dan gelombang tinggi. Selain itu, terdapat potensi bencana geologi seperti gempa bumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” tegas BNPB melalui keterangan resminya.

Pihak BNPB juga menekankan pentingnya langkah mitigasi mandiri dan ketangkasan warga dalam melakukan evakuasi secara terukur jika kondisi lingkungan mulai membahayakan.

“Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana dan rencana darurat sebagai langkah kesiapsiagaan. Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diimbau untuk memantau ketinggian muka air secara berkala,” pungkas BNPB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *